Senin, 26 Agustus 2019

Membina Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat dalam Melaksanakan Disiplin Sekolah


TUGAS
Manajemen Kelas Di SD
Membina Hubungan Sekolah Dengan Masyarakat
dalam Melaksanakan Disiplin Sekolah
Restu Kurnia Illahi
1620239
7 F

Dosen Pengampu:
Yessi Rifmasari, M.Pd

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH  TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019
MEMBINA HUBUNGAN SEKOLAH DENGAN MASYARAKAT
DALAM MELAKSANAKAN DISIPILIN SEKOLAH
A.    Pengertian Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Hubungan antara sekolah dan masyarakat pada hakekatnya adalah suatu sarana yang cukup mempunyai peranan yang menentukan dalam rangka usaha mengadakan pembinaan pertumbuhan dan pengembangan murid-murid di sekolah. Secara umum orang dapat mengatakan apabila terjadi kontak, pertemuan dan lain-lain antara sekolah dengan orang di luar sekolah, adalah kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. Arthur B. Mochlan menyatakan school public relation adalah kegiatan yang dilakukan sekolah atau sekolah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ada suatu kebutuhan yang sama antara keduanya, baik dilihat dari segi edukatif, maupun dilihat dari segi psikologi. Hubungan antar sekolah dan masyarakat lebih dibutuhkan dan lebih terasa fungsinya, karena adanya kecenderungan perubahan dalam pendidikan yang menekankan perkembangan pribadi dan sosial anak melalui pengalaman-pengalaman anak dibawah bimbingan guru, baik diluar maupun di dalam sekolah.
Ada tiga faktor yang menyebabkan sekolah harus berhubungan dengan masyarakat :
1.      Faktor perubahan sifat, tujuan dan metode mengajar di sekolah.
2.      Faktor masyarakat, yang menuntut adanya perubahan-perubahan dalam pendidikan di sekolah dan perlunya bantuan masyarakat terhadap sekolah.
3.      Faktor perkembangan ide demokrasi bagi masyarakat terhadap pendidikan.

B.     Jenis-jenis Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Ada beberapa jenis hubungan sekolah dengan masyarakat, yaitu:
1.      Hubungan edukatif,
Hubungan edukatif ialah hubungan kerja sama dalam hal mendidik murid, antara guru di sekolah dan orang tua di dalam keluarga. Adanya hubungan ini dimaksudkan agar tidak terjadi perbedaan prinsip atau bahkan pertentangan yang dapat mengakibatkan keragu-raguan pendirian dan sikap pada diri anak.
2.      Hubungan kultural
Hubungan kultural, yaitu usaha kerja sama antara sekolah dan masyarakat yang memungkinkan adanya saling membina dan mengembangkan kebudayaan masyarakat tempat sekolah itu berada. Untuk itu diperlukan hubungan kerja sama antara kehidupan di sekolah dan kehidupan dalam masyarakat. Kegiatan kurikulum sekolah disesuaikan dengan kebutuhan dan tuntutan perkembangan masyarakat. Demikian pula tentang pemilihan bahan pengajaran dan metode-metode pengajarannya.
3.      Hubungan instusional
Hubungan institusional adalah hubungna kerja sama antar sekolah dengan lembaga-lembaga atau instansi lain, baik swasta maupun pemerintah, seperti hungna kerja sama antar sekolah denagn sekolah-sekolah lainnya, kepala sekolah setempat ataupun  perusahaan-perusahaan Negara, yang berkaitan dengan perbaikandan perkembangan pendidikan pada umumnya.

C.    Tujuan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Elsbree menggariskan tujuan tentang hubungan antara sekolah dan masyarakat adalah sebagai berikut:
a.       Untuk memajukan kualitas belajar dan pertumbuhan anak.
b.      Untuk memperkokoh tujuan dan memajukan kualitas penghidupan masyarakat.
c.       Untuk mendorong masyarakat dalam membantu progam bantuan sekolah dan masyarakat di sekolah.
Di dalam masyarakat ada sumberdaya manusia dan sumber daya non manusia. Dari kedua sumber daya itu, sekolah dapat memilih dan memanfaatkan untuk program pendidikan sekolah. Jika sekolah itu berhasil memanfaatkan secara maksimal, maka hasil belajar anak akan lebih baik. Dengan demikian potensi anak akan bertumbuh dan berkembang secara maksimal. Pengaruh yang lebih jauh dari perkembangan anak tersebut adalah tujuan pendidikan sekolah akan tercapai dengan meyakinkan. Hal ini berarti bahwa tamatan (output) sekolah secara langsung akan ikut serta dalam memajukan penghidupan dan kehidupan masyarakat. Karena itu hubungan timbal balik antara sekolah dengan masyarakat perlu dipelihara dan dikembangkan secara terus menerus.
D.    Peranan Hubungan Sekolah dengan Masyarakat
Peranan hubungan sekolah dengan masyarakat antara lain adalah:
1.      Sekolah sebagai partner masyarakat di dalam melaksanakan fungsi pendidikan. Dalam konteks ini, berarti keduanya, yaitu sekolah dan masyarakat dilihat sebagai pusat-pusat pendidikan yang potensial dan mempunyai hubungan yang fungsional.
2.      Sekolah sebagai prosedur yang melayani kesan pesan pendidikan dari masyarakat lingkungannya. Berdasarkan hal ini, berarti antara masyarakat dengan sekolah memiliki ikatan hubungan rasional berdasarkan kepentingan di kedua belah pihak.
3.      Masyarakat  berperan serta dalam mendirikan dan membiayai sekolah.
4.      Masyarakat berperan dalam mengawasi pendidikan agar sekolah tetap membantu dan mendukung cita-cita dan kebutuhan masyarakat.
5.      Masyarakat yang ikut menyediakan tempat pendidikan seperti gedung-gedung museum, perpustakaan, panggung-panggung kesenian, dan sebagainya.
6.      Masyarakat yang menyediakan berbagai sumber untuk sekolah.
7.      Masyarakat sebagai sumber pelajaran atau laboratorium tempat belajar seperti aspek alami, industri, perumahan, transportasi, perkebunan, pertambangan dan sebagainya
















DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2009. Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif. Jakarta : Rajawali Pres.
Djamarah, Syiful Bahri. 2000. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: Rineka Cipta.

Menciptakan Suasana Kelas yang Efektif


TUGAS
Manajemen Kelas Di SD
Menciptakan Suasana Kelas yang Efektif
Restu Kurnia Illahi
1620239
7 F

Dosen Pengampu:
Yessi Rifmasari, M.Pd


PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH  TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019
MENCIPTAKAN SUASANA KELAS YNAG EFEKTIF
A.    Pengertian Pembelajaran Efektif
Menurut Dryden dan Voss (1999) mengatakan bahwa belajar akan efektif jika suasana pembelajarannya menyenangkan. Hakikat pembelajaran efektif adalah proses belajar mengajar yang buka hanya terfokus kepada hasil yang di capai peserta didik, namu bagaimana proses pembelajaran yang efetif mamapu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan, kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan perilaku dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka.
B.     Suasana Pembelajaran Efektif dan Menyenangkan
1.      Suasana pembelajaran yang efektif
Menurut Madri M dan Rosmawati menulis, terjadinya proses pembelajaran itu ditandai dengan :
a.       Siswa menunjukkan keaktifan, seperti tampak dalam jumlah curahan waktunya untuk melaksanakan tugas ajar
b.      Terjadi perubahan perilaku yang selaras dengan tujuan pengajaran yang di harapkan.
Untuk menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan gairah belajar, maka di perlukan pengorganisasian kelas yang memadai. Dalam hal ini di uraikan beberapa suasana yang efektif dalam pelaksanaan proses pembelajaran:
a.       Suasana belajar yang menyenangkan
b.      Suasana bebas
c.       Pemilihan media pengajaran dan metode yang sesuai
2.      Suasana pembelajaran yang menyenangkan
C.    Menciptakan Suasana Pembelajaran yang Efektif dan Menyenangkan Bagi Siswa
1.      Kondisi belajar ynag efektif
Guru sebagai pembimbing diharapkan mampu menciptakan kondisi dan strategi yang dapat membuat peserta didik nyaman dalam menikuti proses pembelajaran. Dalam menciptakan kondisi yang baik guru harus memperhatikan dua hal yaitu:
a.       Kondisi internal merupakan kondisi yang ada pada diri siswa itu sendiri, misalnya kesehatan, keamananya, ketentramanya dan sebagainya.
b.      Kondisi eksternal yaitu kondisi ynag ada diluar pribadi manusia, seperti kebersihan rumah, penerangan serta keadaan lingkungan fisik.
Langkah-langkah dalam mewujudkan kondisi belajar yang efektif antara lain adalah:
1.      Melibatkan siswa secara aktif
a.       Tingkatkan partisifasi siswa dalam kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan berbagai teknik mengajar.
b.      Berikanlah materi pelajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan pembelajaran.
c.       Usahakan agar pembelajaran lebih menarik minat siswa. Untuk itu guru harus mengetahui minat siswa dan mengaitkannya dengan bahan pembelajaran
2.      Menarik minat dan perhatian siswa
Kondisi pembelajaran yang efektif adalah adanya minat dan perhatian siswa dalam belajar. Minat merupakan suatu sifat yang relatif menetap pada diri seseorang. Minat sangat besar sekali pengaruhnya terhadap belajar, sebab dengan minat seseorang akan melakukan sesuatu yang akan di minatinya.
3.      Membangkitkan motivasi siswa
Motif adalah semacam daya yang terdapat dalam diri seseorang yang dapat mendorongnya untuk melakukan sesuatu. Sedangkan motivasi adalah suatu proses untuk menggiatkan moti-motif menjadi perbuatan atau tingah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan. Tugas guru adalah bagaimana membangkitkan motivasi siswa sehingga ia mau belajar.
4.      Memberikan pelayanan individu siswa
Memberikan pelayan individual siswa bukanlah semata-mata di tujukan kepada siswa secara perseorangan saja, melaikan dapat juga di tujukan kepada sekelompok siswa  dalam satu kelas tertentu. Sistem pembelajaran individual atau privat.
5.      Menyiapkan dan menggunakan berbagai media dalam pembelajaran
Alat peraga atau media pembelajaran adalah alat-alat yang digunakan gur dalam mengajar untuk membantu memperjelas materi pembelajaran yang disampaikan pada siswa dan mencegah terjadinya verbalisme pada diri siswa. Pembelajaran yang efektif harus mulai dengan pengalaman langsung yang dibantu dengan sejumlah alat peraga dengan memperhatikan dari segi nilai dan manfaat alat peraga tersebut dalam membantu menyukseskan proses pembelajaran di kelas.
2.      Menciptakan suasana yang menyenangkan
a.       Ciptakan iklim yang  nyaman buat anak didik
Iklim yang nyaman akan menghilangkan kecanggungan siswa, baik sesama guru maupun antar siswa sendiri.
b.      Dengarkan dengan serius setiap komentar atau pertanyaan yang di ajukan oleh siswa
Jika siswa anda mengajukan pertanyaan, sebisa munkin fokus dan memperhatikannya. Meski sederhana, hal ini akakn menumbuhkan kepercayaan diri siswa karena ia merasa diperhatikan.
c.       Jangan ragu memberikan pujian kepada siswa
d.      Berikan pertanyaan yag mudah di jawab
e.       Biarkan siswa mengetahui pelajaran sebelum kelas di mulai
Minta agar para siswa mempelajari bahan yang nantinya akan anda tanyakan. Sehingga ia akan mempersiapkannya terlebih dahulu.
f.       Controlling
Kontrol para siswa anda dengan alat kontrol anda miliki. Gunanya adalah untuk mengetahui seberapa banyak siswa yang biasanya berpartisipasi dalam kelas.

Berikut ini, adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan antara lain:
1.      Dekorasi ruangan
Buatlah ruang kelas terlihat ceria dengan memberikan berbagai hiasan pada dinding kelas. Selain sebagai dekorasi, hiasan dinding ini juga bermanfaat untuk membantu proses belajar mengajar. Misalnya, tempelkan berbagai gambar hewan atau tumbuhan pada dinding kelas, dan berikan keterangan dalam bahasa inggris. Secara tidak langsung, anak akan mengenal bahasa inggris dari berbagai hewan dan tumbuhan yang tertempel pada dinding. Cara ini akan lebih efektif dibandingkan meminta anak menghafalkannya dari kamus.
2.      Manfaatkan beragam media
Guru bisa memanfaatkan berbagai media untuk membantunya mengajar, misalnya seperti menggunakan boneka peraga saat ingin mengajar dengan cara mendongeng. Selain itu, guru juga bisa mengajak muridnya menyaksikan berbagai video anak-anak yang menggunakan bahasa inggris.
3.      Cara mengajar
Ingatlah bahwa anak lebih suka bermain daripada belajar, karena itulah guru harus mampu membuat suasana belajar seperti sedang bermain. Guru juga bisa memperkenalkan berbagai kosakata melalui lagu. Ajak murid menyanyikan lagu yang berisi berbagai kosakata benda yang ada disekitarnya.
Suasana kelas yang menyenangkan, akan membuat anak menjadi lebih bersemangat setiap kali akan berangkat ke lembaga kursus untuk belajar.
















DAFTAR RUJUKAN
Departemen Pendidikan Nasional. 2003. Kegiatan Belajar Mengajar ynag Efektif. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional

Tahap Pengulangan Disiplin Kelas


TUGAS
Manajemen Kelas Di SD
Tahapan Penanggulangan Disiplin Kelas
Restu Kurnia Illahi
1620239
7 F

Dosen Pengampu:
Yessi Rifmasari, M.Pd

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH  TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
ADZKIA PADANG
2019

TAHAPAN PENANGULANGAN DISIPLIN KELAS
A.    TINDAKAN PREVENTIF
Tindakan preventif merupakan tindakan guru dalam mengatur pesera didik dan peralatan serta format pembelajaran. Dikatakan secara preventif apabila upaya yang dilakukan atas dasar inisiatif guru untuk menciptakan suatu kondisi dari kondisi masa menjadi interaksi pendidikan dengan jalan menciptakan kondisi baru yang mengguntungkan bagi prosese belajar mengajar. Hal ini dapat berupa tindakan, contoh pemberian informasi yang dapat diberikan kepada siswa sehingga akan berkembang motifasi yang tinggi, atau agar motifasi yang sudah baik itu tidak dinodai oleh tindakan siswa yang menyimpang sehingga mengganggu proses belajar menggajar dikelas.
Keterampilan yang behubungan dengan kompetensi guru dalam mengambil inisiatif dan mengendalikan pelajaran ini, dapat ditunjukkan melalui sikap tanggap guru, bahwa guru hadir bersama anak didik. Guru tau kegiatan mereka memperhatikan atau tidak seolah olah mata guru ada dibelakang kepala, sehingga guru dapat menegur mereka walaupun sedang menulis dipapan tulis.
Langkah-langkah Preventif dalam Mengelola Kelas
Langkah-langkah preventif dalam mengelola kelas, antara lain:
1.      Peningkatan kesadaran guru sebagai seorang pendidik
Dalam kedudukannya sebagai  seorang pendidik, guru harus sadar bahwa dirinya memiliki rasa’’handharbeni’’(rasa peduli terhadap kelas dengan segala isinya) dan bertanggung jawab terhadap proses belajar mengajar. Guru menyadari kebutuhan anak didik dan memiliki kemampuan dala memberi petunjuk secara jelas kepada anak didik demi kemajuan mereka dalam belajar. Sebagai seorang pendidik, guru berkewajiban mengubah pergaulanya dengan siswa sehingga pergaulan itu tidak hanya berupa interaksi biasa tetapi merupakan interaksi pendidikan. Agar interaksi itu bersifat sebagai interaksi pendidikan, maka seorang guru harus dapat mewujudkan suasana yang kondusif yang mengundang siswa untuk masuk berperan serta dalam proses pendidikan.
2.      Peningkatan Kesadaran Siswa
Apabila kesadaran diri guru sebagai seorang pendidik sudah ditingkatkan, langkah kedua kemudian berusaha meningkatkan kesadaran siswa akan kedudukan dirinya dalam proses pendidikkan. Langkah yang kedua yang harus dilakukan seorang guru adalah meningkatkan kesadaran siswa akan dirinya terutama tentang pertimbangan akan hak dan kewajiban. Dengan menyadari akan hak dan kewajiban tersebut diharapkan sisiwa akan mengendalikan dirinya dari tindakan dan tingkah laku yang menyimpang yang akan mencemari suasana pendidikan. Upaya penyadaran ini adalah tanggung jawab setiap guru, karna dengan kesadaran siswa yang tinggi akan perananya sebagai anggota masyarakat sekolah, akan menimbulkan suasana yang mendukung untuk melakukan proses belajar mengajar.
3.      Penampilan sikap guru
Upaya penciptaan suasana yang mendukung proses pendidikan harus dilakukan dengan inisiatif. Inisiatif guru itu diwujudkan dalam interaksinya dengan siswa-siawa yang dilambari dengan sikap tulus dan hangat.
4.      Pengenalan terhadap tingkah laku siswa
Seorang guru hendaknya mengenal tingkah laku siswa. Pengenalan akan tingkah laku ini dalam kaitannya dengan pengelolaan kelas. Tingkah laku siswa yang harus dikenal adalah tingkah laku baik yang mendukung maupun yang dapat mencemarkan suasana yang diperlukan untuk terjadinya proses pendidikan. Tingkah laku tersebut dapat bersifat perseorangan ataupun kelompok.
5.       Penemuan alternatif pengelolaan kelas
Setelah seorang guru dapat menyelidiki berbagai tingkah laku siswa, baik yang mendukung maupun yang mencemarkan suasana pendidikan, maka selanjutnya berusaha menetapkan alternatif pengelolaan kelas yang akan dilakukan. Upaya pengelolaan itu diarahkan untuk mempertahankan dan menghidupkan tingkah laku siswa yang mendukung suasana pendidikan, tentunya akan berbeda dengan upaya pengelolaan kelas yang diarahkan untuk mencegah timbulnya tingkah laku yang akan mencemarkan suasana pendidikan itu.
6.      Pembuatan kontrak social
Langkah terakhir adalah pengaturan tingkah laku dengan menggunakan norma atau nilai. Norma atau nilai itu diharapkan akan menjadi landasan tindakan yang akan berfungsi untuk mempertahankan kehadiran tingkah laku siswa yang mendukung maupun untuk mencegah tingkah laku sosial, pada hakikatnya adalah norma yang dituangkan dalam bentuk peraturan atau tata tertib kelas baik tertulis maupun tidak tertulis, yang berfungsi sebagai standar tingkah laku bagi siswa sebagai individu maupun sebagai kelompok. Maka diperlukan rekonstruksionis interpretasi agama untuk memperbaiki hubungan peradaban modern dengan Islam.

Kontrak sosial yang baik adalah benar-benar dihayati atau dipatuhi sehingga menimalkan terjadinya pelanggaran. Untuk mencapai hal tersebut, kebiasaan membuat peraturan atau tata tertib dari atas nampaknya tidak menguntungkan. Kontrak sosial yang dipergunakan dalam upaya pengelolaan kelas hendaknya disusun oleh siswa sendiri dengan pengarahan dan bimbingan pendidik.

B.     TINDAKAN KURATIF
Tindakan kuratif merupakan tindakan terhadap perilaku yang menyimpang yang sudah terlangjur terjadi agar penyimpangan tersebut tidak berlarut-larut. Dikatakan secara kuratif karena dilaksanakn saat atau setelah terjadi penyimpangan pada tingkah laku siswa sehingga mengganggu jalannya proses belajar mengajar. Dalam hal ini guru akan berusaha menghentikan tingkah laku yang menyimpang tersebut dan kemudian mengarahkan terciptanya tingkah laku siswa yang mendukung terselenggaranya proses belajar mengajar dengan baik.
Guru harus mengetahaui pusat perhatian siswa pada waktu mengikuti pelajaran dalam kelas. Apakah siswa-siswanya di kelas tekun mengikuti dan terlibat dalam kegiatan belajar mengajar ataukah tidak. Apabila terdapat anak didik yang menimbulkan gangguan pada saat kegiatan belajar mengajar, guru dapat menggunakan seperangkat cara untuk mengendalikan tingkah laku anak didik, misalnya dengan mencoba mengetahui sebab-sebab yang mengakibatkan tingkah laku anak didik yang menyimpang tadi, kemudian berusaha untuk menemukan pemecahannya.
Konsep Disiplin Kuratif dalam Mengelola Kelas
Konsep disiplin kuratif dalam mengelola kelas antara lain adalah:
1.      Identifikasi masalah
Pertama seorang guru melakukan identifikasi masalah dengan jalan berusaha memahami dan menyelidiki penyimpangan tingkah laku siswa yang dapat mengganggu proses kelancaran pendidikan di kelas. Upaya penyelidikan terhadap tingkah laku dapat dalam arti apakah termasuk tingkah laku yang berdampak motif secara luas atau tidak, ataukah penyimpangan tingkah laku itu bersifat sesaat saja atau sering dilakukan, ataukah sekedar kebiasaan siswa.
2.      Analisa masalah
Seorang guru dapat melanjutkan pada langkah ini yaitu suatu kegiatan yang berusaha mengetahui latar belakang serta sebab-sebab timbulnya tingkah laku yang menyimpang tersebut. Dengan cara yang demikian akan dapat ditemukan sumber masalah yang sebenarnya, upaya untuk mengatasinya dapat dilakukan dengan baik. Maka guru dapat menganalisanya dan berusaha menemukan pemecahannya dengan menggunakan berbagai pendekatan pemecahan masalah.
3.      Penetapan alternatif pemecahan
Mengetahui sumber masalahnya, seorang guru dapat mencoba mengkaji berbagai alternatif pemecahan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut. Untuk dapat memperoleh alternatif-alternatif pemecahan itu, maka ia hendaknya mengetahui berbagai pendekatan yang dapat dipergunakan dalam pengelolaan kelas dan juga memahami cara-cara untuk mengatasi setiap masalah sesuai dengan pendekatan masing-masing.
4.      Monitoring
Hal ini diperlukan karena akibat perlakuan guru itudapat saja mengenai sasaran, yaitu meniadakan tingkah laku siswa menyimpang itu, tetapi dapat pula tidak berakibat apa-apa atau bahkan mungkin menimbulkan tingkah laku menyimpang berikutnya yang justru lebih jauh menyimpangnya. Langkah monitoring pada hakekatnya ditujukan untuk mengkaji akibat-akibat yang terjadi tersebut.
5.      Memanfaatkan umpan balik
Hasil dari kegiatan monitoring itu sebenarnya merupakan umpan balik terbaik guru yang sangat berharga, karena dengan ini ia dapat mengkaji kembali apakah alternatif tindakan yang telah dilakukan itu tepat atau tidak, atau masih perlu di sempurnakan. Hasil monitoring itu hendaknya dimanfaatkan secara konstruktif, yaitu dengan cara mempergunakan nya untuk :
a.               Memperbaiki pengambilan alternatif yang pernah ditetapkan bila kelak menghadapi masalah yang sama pada situasi yang sama.
b.               Hasil analisis data yang diperoleh dapat dijadikan umpan balik untuk merevisi hal-hal atau kelemahan-kelemahan apa saja yang menjadi kendala dalam pencapainan tujuan pengajaran tersebut.

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2009. Pengelolaan Kelas dan Siswa Sebuah Pendekatan Evaluatif. Jakarta : Rajawali Pres.
Ahmad, Muhammad Qadir. 2008. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Rineka Cipta. Jakarta. 2008.