Rabu, 31 Juli 2019

Manajemen Pembelajaran


TUGAS
Manajemen Kelas Ke SD-an
Tentang
Manajem Pembelajaran
Restu Kurnia Illahi
1620239
7 F

Dosen Pengampu:
Yessi Rifmasari, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 SEKOLAH  TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA PADANG
2019

MANAJEMEN PEMBELAJARAN
A.    KONSEP MANAJEMEN PEMBELAJARAN
Pembelajaran merupakan kegiatan yang di dalam pelaksanaannya melibatkan guru dan siswa. Menurut Ambarita (2006:72) manajemen pembelajaran adalah kemampuan guru  (manajer) dalam memdaya gunakan sumber daya ynag ada, melalui kegiatan pemciptaan dan mengembangkan kerja sama, sehingga di antara mereka tercipta pembelajaran untuk memcapai tujuan pendidikan di kelas secra efektif dan efisien.
Pada dasarnya, manajemen pembelajaran merupakan pengaturan semua kegiatan pembelajaran, baik kegiatan pembelajaran yang dikategorikan dalam kurikulum inti maupun penunjang, berdasarkan kurikulum yang telah ditetapkan sebelumnya; oleh Kementrian Pendidikan Nasional atau Kementrian Agama.
Menurut Ibrahim Bafadhal, manajemen pembelajaran adalah segala usaha pengaturan proses belajar mengajar dalam rangka tercapainya proses belajar mengajar yang efektif dan efisien. Manajemen program pembelajaran sering disebut dengan manajemen kurikulum dan pembelajaran
Ajat Rukajat (2018: 5) konsep manajemen pembelajaran dalam arti luas berisi proses kegiatan mengelola bagaimana membelajarkan si pembelajar dengan kegiatan  yang di mulai dari perencanaa, pengorganisasian, pengaruh atau pengadilan dan penilaian.
Sedangkan konsep manajemen pemebelajaran dalam arti sempit diartikan sebagai kegiatan yang perlu di kelola oleh guru selama terjadinya proses interaksinya dengan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.
Jadi manajemen pembelajaran merupakan krgiatan mengelola proses pembelajaran, sehingga manajemen pembelajaran merupakan salah satu bagaian dari serangkaian kegiatan dalam manajemen pendidikan.

B.     TUJUAN MANAJEMEN PEMBELAJARAN
Tujuan manajemen pendidikan erat sekali dengan tujuan pendidikan secara umum, karena manajemen pndidikan pada hakikatnya merupakan alat untuk mencapai tujuan pendidikan secara optimal.
Tujuan pokok mempelajari menajemen pembelejaran adalah untukk memperoleh cara teknik dan metode yang sebaik-baiknya di lakukan, sehingga sumber-sumber yang sangat terbatas seperti tenaga, dana, fasilitas, material maupun spiritual guna mencapai tujuan pembelajaran secara efektif dan efesien
Nanang Fattah berpendapat bahwa: Tujuan ini tidak tunggal bahkan jamak atau rangkap, seperti peningkatan mutu pendidikan/lulusanya, keuntungan/profit yang tinggi, pemenuhan kesempatan kerja membangun daera/nasional, tanggung jawab sosial. Tujuan-tujuan ini ditentukan berdasarkan penataan dan pengkajian terhadap situasi dan kondisi organisasi, seperti kekuatan dan kelemahan, peluang dan ancaman.
Secara rinci tujuan manajemen pendidikan antara lain:
1.      Terwujudnya suasana belajar dan proses pembelajaran yang aktif, inovatif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAIKEM).
2.      Terciptanya peserta didik yang aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, keterampilan yang di perlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara.
3.      Tercapainya tujuan pendidikan secara efektif dan efesien.
4.      Terbaliknya tenaga pendidik denganteori tentang proses dan tugas administrasi pendidikan.
5.      Teratasinya masalah mutu pendidikan.

C.    KEBIJKAN TENTANG MANAJEMEN PEMBELAJARAN
Pembelajaran sebagai suatu proses kegiatan, terdiri atas tiga fase atau tahapan. Fase-fase proses pembelajaran yang dimaksud meliputi: tahap perencanaan, tahap pelaksanan, dan tahap evaluasi. Adapun dari ketiganya ini akan dibahas sebagaimana berikut:
a.       Perencanaan Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran yang baik senantiasa berawal dari rencana yang matang. Perencanaan yang matang akan menunjukkan hasil yang optimal dalam pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran, yang direncanakan harus sesuai dengan target pendidikan. Guru sebagai subjek dalam membuat perencanaan pembelajaran harus dapat menyusun berbagai program pengajaran sesuai pendekatan dan metode yang akan digunakan.
b.      Pelaksanaan pembelajaran
Tahap ini merupakan tahap implementasi atau tahap penerapan atas desain perencanaan yang telah dibuat guru sesuai dengan silabus. Sebelum memahami tentang bagaimana melaksanakan pengajaran yang sesuai dengan silabus.
Silabus menurut salim yang dikutip oleh Abdul Majid dalam buku Perencanaan Pembelajaran bahwa silabus dapat di definisikan sebagai “Garis besar, ringkasan, ikhtisar, atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran”.
c.       Sistem evaluasi pembelajaran
Menurut Hamalik yang dikutip oleh Mulyasa bahwa evaluasi itu adalah keseluruhan kegiatan pengukuran (pengumpulan data dan informasi), pengolaan, penafsiran, dan pertimbangan untuk membuat keputusan tentang tingkat hasil belajar yang dicapai peserta didik setelah melakukan kegiatan belajar dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.
Tujuan evaluasi bagi guru dapat mengetahui keberhasilan pencapaina tujuan,penguasaan siswa terhadapa pembelajaran, atau efektifitas metode mengajar.
Tujuan evaluasi atau penilaian diantaranya untuk dapat menentukan dengan pasti kelompok mana seorang siswa harus di tempatkan. Sekelompok siswa yang mempunyai hasil penilaian yang sama, akan berada dalam kelompok yang sama dalam belajar.

D.    PERAN GURU DALAM MANAJEMEN KELAS
Menurut Jihad Sebagai pengajar guru di tuntut mempunyai kewenangan dalam mengajar berdasarkan kualitasnya sebagai tenaga pengajar. Sebagai tenaga pengajar, setiap guru harus memiliki kemampuan profesional dalam bidang pembelajaran. Dengan kemampuan tersebut guru dapat melaksanakan perannya sebagai berikut:
1.      Fasilitator yang yang menyediakan kemudahan-kemudahan bagi siswa dalam proses belajar-mengajar.
2.      Pembimbing yang membantu siswa mengatasi kesulitan pada proses belajar-mengajar
3.      Penyedia lingkungan yang berupaya menciptakan lingkungan belajar yang menantang bagi siswa agar mereka melakukan kegiatan belajar dengan semangat.
4.      Model yang mampu memberikan contoh yang baik kepada siswa agar beperilaku sesuai dengan norma yang berlaku di dunia pendidikan.
5.      Motivator yang turut menyebar luaskan usaha-usaha pembaruan kepada masyarakat khususnya kepada subjek didik khususnya siswa.
6.      Agar perkembangan kognitif yang menyebar luaskan ilmu dan teknologi kepada siswa dan masyarakat.
7.      Manajer yang memimpin kelompok siswa dalam kelas sehingga berhasil proses belajar mengajar tercapai.

E.     KODE ETIK GURU
1.      Guru berbakti membimbing peserta didik seutuhnya untuk membentuk manusia pembangunan dan berjiwa Pancasila.
2.      Guru memiliki kejujuran profesional dalam menerapkan kurikulum sesuai dengan kebutuhan peserta didik masing-masing.
3.      Guru berusaha memperoleh informasi tentang peserta didik sebagai bahan melakukan bimbingan dan pembinaan, tetapi menghindarkan diri dari segala bentuk penyalahgunaan.
4.      Guru menciptakan suasana kehidupan sekolah dan memelihara hubungan dengan orang tua murid sebaik-baiknya bagi kepentingan peserta didik.
5.      Guru memelihara hubungan dengan masyarakat di sekitar sekolahnya maupun masyarakat yang luas untuk kepentingan pendidikan.
6.      Guru secara pribadi dan bersama-sama berusaha mengembangkan dan meningkatkan mutu profesinya.
7.      Guru menciptakan dan memelihara hubungan antar sesama guru baik berdasarkan lingkungan maupun di dalam hubungan keseluruhan.
8.      Guru secara bersama-sama memelihara, membina dan meningkatkan mutu organisasi PGRI sebagai sarana perjuangan dan pengabdiannya.
9.      Guru melaksanakan segala ketentuan yang merupakan kebijaksanaan pemerintah dalam bidang pendidikan.



DAFTAR PUSTAKA
Husaini Usman.2006. Manajemen Teori, Praktik, dan Riset Pendidika. Jakarta: Bumi Aksara.
Jihad Asep, Suyanto.2013 . Menjadi Guru profesional. Jakarta.
Nanang Fattah.2004. Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Rukajat Ajat. 2018. Manajemen Pembelajaran. Yogyakarta: Deephublis.
Suharsimi Arikunto. 2002.  Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. 
Undang-Undang Sisten Pendidikan Nasional No.20 Tahun. 2003. Bandung: Citra Umbara.


Senin, 29 Juli 2019

prinsip belajar mengajar


TUGAS
Manajemen Kelas Ke SD-an
Tentang
PRINSIP BELAJAR MENGAJAR DAN
KETERAMPILAN DALAM MENGAJAR
Restu Kurnia Illahi
1620239
7 F

Dosen Pengampu:
Yessi Rifmasari, M.Pd

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
 SEKOLAH  TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN ADZKIA PADANG
2019

PRINSIP BELAJAR MENGAJAR DAN
KETERAMPILAN DALAM MENGAJAR
A.    BELAJARA DAN MENGAJAR
1.      Pengertian Belajar
Menurut Skinner, seperti dikutip Barlow (1985) dalam bukunya Educational Psychology: The Teaching-Learning Process, berpendapat bahwa belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif. Pendapat ini diungkapkan dalam pernyataan ringkasnya, bahwa belajar adalah a process of progressive behavior adaptation.
Chaplin dalam Dictionary of Pshycology membatasi belajar dengan dua macam rumusan. Rumusan pertama berbunyi acquisition of any relatively permanent change in behavior as a result of practice and experience. Belajar adalah perolehan perubahan tingkah laku yang relative menetap sebagai akibat latihan dan pengalaman. Rumusan keduanya Process of acquiring responses as a result of special practice, belajar ialah proses memperoleh respons-respons sebagai akibat adanyan latihan khusus.
Menurut Oemar Hamalik, “Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (Learning is defined as the modification or strengthening of behaviour through experiencing)”. Yang berarti bahwa, belajar merupakan suatu proses suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.
Reber dalam kamus susunannya yang tergolong modern, Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua macam definisi. Pertama, belajar adalah The process of acquiring knowledge, yakni proses memperoleh pengetahuan.
Kedua, belajar adalah A relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinfoerced practice, yaitu suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relatif langgeng sebagai hasil latihan yang diperkuat. Dalam definisi ini terdapat empat macam istilah yang esensial dan perlu disoroti untuk memahami proses belajar.
a.       Relatively permanent, yang secara umum menetap.
b.      Response potentiality, kemampuan bereaksi.
c.       Reinforcel, yang diperkuat.
d.      Practise, praktik atau latihan.
Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang terjadi melalui pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang mengalami perubahan tersebut menyangkut perubahan sikap, pemecahan suatu masalah, keterampilan, kecakapan dan kebiasaan.
2.      Pengertian Mengajar
Mengajar berarti partisipasi dengan pelajar dalam membentuk pengetahuan, membuat makna, mencari kejelasan, bersikap kritis, dan mengadakan justifikasi. Jadi, mengajar adalah suatu bentuk belajar sendiri.
Menurut Oemar Hamalik, mengajar memiliki beberapa definisi penting, diantaranya :
a.       Mengajar ialah menyampaikan pengetahuan kepada siswa didik atau murid di sekolah.
b.      Mengajar adalah mewariskan kebudayaan kepada generasi muda melalui lembaga pendidikan sekolah.
c.       Mengajar adalah usaha mengorganisasikan lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa.
d.      Mengajar atau mendidik itu adalah memberikan bimbingan belajar kepada murid.
e.       Mengajar adalah kegiatan mempersiapkan siswa untuk menjadi warga Negara yang baik sesuai dengan tuntutan masyarakat.
f.       Mengajar adalah suatu proses membantu siswa menghadapi kehidupan masyarakat sehari-hari.
Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa, “ Mengajar adalah menyampaikan pengetahuan kepada siswa guna membantu siswa menghadapi masalah yang terdapat pada kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini sebenarnya siswa dapat belajar sendiri tanpa adanya guru pengajar, namun seringkali siswa mengalami kesulitan dalam memahami isi buku tersebut dan memecahkan permasalahan terutama untuk pelajaran matematika. Oleh sebab itu peranan guru dalam proses belajar mengajar itu sangat penting.

B.     PRINSIP BELAJAR MENGAJAR
Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah: perhatian dan motivasi, keaktifan, keterlibatan langsung, pengulangan, tantangan serta perbedaan individu. Lebih jelasnya diuraikan sebagai berikut:
1.       Perhatian dan motivasi
Gage dan Berliner mendefinisikan motivasi adalah tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Motivasi dapat dibandingkan dengan mesin dan kemudi pada mobil. Jadi motivasi merupakan suatu tenaga yang menggerakkan dan mengarahkan aktivitas seseorang. Dengan demikian motivasi dapat dibandingkan dengan sebuah mesin dan kemudi pada mobil.
Motivasi mempunyai kaitan yang erat dengan minat, peserta didik yang memiliki minat terhadap sesuatu bidang studi tertentu cenderung tertarik perhatiannya dan timbul motivasinya untuk mempelajari bidang studi tersebut.
2.       Keaktifan
Belajar merupakan tindakan dan perilaku peserta didik yang kompleks. Kompleksitas belajar tersebut dapat dipandang dari dua subyek, yaitu dari peserta didik dan pendidik. Dari segi pesera didik, belajar dialami sebagai suatu proses, mereka mengalami proses mental dalam menghadapi bahan ajar. Dari segi pendidik proses pembelajaran tersebut tampak sebagai perilaku belajar tentang sesuatu hal. Kecenderungan psikologi dewasa ini menganggap bahwa anak adalah mahluk yang aktif.
Dimiyati dan Mudjiono mengatakan bahwa ”belajar hanya dialami oleh peserta didik sendiri, peserta didik adalah penentu terjadinya atau tidak terjadi proses belajar.Hal ini menunjukkan bahwa belajar tidak bisa dipaksakan oleh orang lain dan juga tidak bisa dilimpahkan kepada orang lain. Belajar hanya mungkin terjadi apabila anak aktif mengalami sendiri.

3.      Keterlibatan Langsung/Berpengalaman
Dalam diri peserta didik terdapat banyak kemungkinan dan potensi yang akan berkembang. Potensi yang dimiliki peserta didik berkembang ke arah tujuan yang baik dan optimal, jika diarahkan dan punya kesempatan untuk mengalaminya sendiri.
Edgar Dale dalam Oemar Hamalik mengemukakan bahwa belajar yang paling baik adalah belajar melalui pengalaman langsung.7 Dale mengadakan klasifikasi pengalaman menurut tingkat yang paling kongkrit ke yang paling abstrak yang dikenal dengan kerucut pengalaman (cone of experience). Teori yang dikemukakan oleh Adgar Dale tersebut menunjukkan bahwa keterlibatan langsung/pengalaman setiap peserta didik itu bertingkattingkat, mulai dari yang abstrak ke yang kongkrit. Dalam proses pembelajaran membutuhkan keterlibatan langsung peserta didik. Namun demikian, keterlibatan langsung secara fisik tidak menjamin keaktifan belajar. Untuk dapat melibatkan peserta didik secara fisik, mental, emosional dan intelektual, maka pendidik hendaknya merancang pembelajarannya secara sistimatis, melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan mempertimbangkan karakteristik peserta didik dan karakteristik mata pelajaran.
4.      Pengulangan
Pengulangan dalam kaitannya dengan pembelajaran adalah suatu tindakan atau perbuatan berupa latihan berulangkali yang dilakukan peserta didik yang bertujuan untuk lebih memantapkan hasilpembelajarannya. Pemantapan diartikan sebagai usaha perbaikan dan sebagai usaha perluasan yang dilakukan melalui pengulangan– pengulangan.
Adanya pengulangan terhadap materi pelajaran yang diberikan mempermudah penguasaan dan dapat meningkatkan kemampuannya. Salah satu teori pembelajaran yang menekankan perlunya pengulangan adalah teori psikologi asosiasi atau koneksionisme dengan tokohnya yang terkenal Thorndike mengemukakan ada tiga prinsip atau hukum dalam belajar yaitu:
a.       Law of readines, belajar akan berhasil apabila individu memiliki kesiapan untuk melakukan perbuatan tersebut.
b.      Law of exercise, belajar akan berhasil apabila banyak latihan dan ulangan.
c.       Law of effect, yaitu belajar akan bersemangat apabila mengetahuai dan mendapatkan hasil yang baik.
5.      Tantangan
Apabila pendidik menginginkan peserta didiknya berkembang dan selalu berusaha mencapai tujuan, maka pendidik harus memberikan tantangan dalam kegiatan pembelajaran. Tantangan dalam kegiatan pembelajaran dapat diwujudkan melalui bentuk kegiatan, bahan, dan alat pembelajaran yang dipilih untuk kegiatan tersebut. Kurt Lewin dengan teori Medan (Field Theory), mengemukakan bahwa peserta didik dalam situasi belajar berada dalam suatu medan atau lapangan psikologis. Dalam situasi belajar peserta didik menghadapi suatu tujuan yang ingin dicapai, tetapi selalu mendapat hambatan yaitu mempelajari bahan ajar, maka timbullah motif untuk mengatasi hambatan itu dengan mempelajari bahan ajar tersebut.
6.      Perbedaan Individual
Pada dasarnya tiap individu merupakan satu kesatuan, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Tidak ada yang sama baik dari aspek fisik maupun psikis. Dimiyati dan Mudiyono berpendapat bahwa “peserta didik merupakan individu yang unik, artinya tidak ada dua orang peserta didik yang sama persis, tiap peserta didik memiliki perbedaan satu sama lain. Perbedaan itu terdapat pula pada karakteristik psikis, kepribadian dan sifat-sifatnya.
Oemar Hamalik mengemukakan bahwa perbedaan individu manusia, dapat dilihat dari dua sisi yakni horizontal dan vertikal. Perbedaan horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental, seperti tingkat kecerdasan, bakat, minat, ingatan, emosi dan sebagainya. Sedang perbedaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah seperti bentuk badan, tinggi dan besarnya badan, tenaga dan sebagainya.15 Masing-masing aspek tersebut besar pengaruhnya terhadap kegiatan dan keberhasilan pembelajaran yang dilakukan.
 Para ahli didik mengklasifikasi tipe belajar peserta didik atas 4 macam yaitu:
a.        Tipe auditif, yaitu peserta didik yang mudah menerima pelajaran melalui pendengaran.
b.      Tipe visual, yaitu yang mudah menerima pelajaran melalui penglihatan.  
c.       Tipe motorik, yaitu yang mudah menerima pelajaran melalui gerakan.
d.      Tipe campuran yaitu peserta didik yang mudah menerima pelajaran melalui penglihatan dan pendengaran.
Mengetahui perbedaan individu dalam belajar, memudahkan bagi pendidik dalam menentukan media yang akan digunakan, hal tersebut sangat urgen dalam pencapaian hasil pembelajaran yang optimal.
C.    KETERAMPILAN-KETERAMPILAN MENGAJAR DAN TUJUAN KETERAMPILAN MENGAJAR
Urutan Penyajian dilakukan sesuai hasil penelitian Turney yaitu:
1.      Keterampilan Bertanya
Keterampilan bertanya sangat perlu dikuasai guru untuk menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan, karena hampir dalam setiap tahap pembelajaran guru dituntut untuk mengajukan pertanyaan, dan kualitas pertanyaan yang diajukan guru akan menentukan kualitas jawaban siswa. Brown menyatakan bahwa bertanya adalah setiap pernyataan yang mengkaji atau menciptakan ilmu pada diri siswa.29 Cara untuk mengajukan pertanyaan yang berpengaruh positif bagi kegiatan belajar siswa merupakan suatu hal yang tidak mudah. Oleh sebab itu seorang guru hendaknya berusaha agar memahami dan menguasai penggunaan keterampilan dasar mengajar guru dalam bertanya.
Pada dasarnya pertanyaan yang diajukan merupakan suatu proses pemberian stimulus secara verbal dengan maksud untuk menciptakan terjadinya proses intelektual pada siswa, dengan memperhatikan respon atas pertanyaan tersebut.30 Sehingga para ahli percaya bahwa pertanyaan yang baik memiliki dampak yang positif terhadap siswa, di antaranya:
a.       Bisa meningkatkan pertisipasi siswa secara penuh dalam proses pembelajaran.
b.      Dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, sebab berpikir itu sendiri pada hakikatnya bertanya.
Komponen keterampilan bertanya yang perlu dikuasi guru meliputi keterampilan bertanya dasar dan keterampilan bertanya lanjutan.
1.      Komponen keterampilan bertanya dasar mencakup:
a.       Penggunaan pertanyaan yang jelas dan singkat dengan menggunakan kata-kata yang mudah dimengerti dan sesuai taraf perkembangannya.
b.      Pemberian acuan, berupa pernyataan yang berisi informasi yang relevan dengan jawaban yang diharapkan dari siswa.
c.       Pemindahan giliran dan menyebar pertanyaan, untuk melibatkan seluruh siswa semaksimal mungkin agar tercipta iklim pembelajaran yang menyenangkan.
d.      Pemberian waktu berpikir pada siswa.
e.       Pemberian tuntunan, guru hendaknya memberikan tuntunan agar murid dapat menjawab sendiri ketika terdapat kesalahan dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh guru.

2.      Keterampilan Memberikan Penguatan
Penguatan adalah respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut. Respon positif yang dilakukan guru atas perilaku positif yang dicapai anak dalam proses pembelajaran disebut juga dengan penguatan.
a.       Penguatan Verbal.
Penguatan verbal adalah penguatan yang diungkapkan dengan kata-kata, baik kata-kata pujian, dukungan, dan penghargaan atau kata-kata koreksi.39Melalui kata-kata itu siswa akan merasa tersanjung dan berbesar hati sehingga ia akan merasa puas dan terdorong untuk lebih aktif belajar. Misalnya: pintar sekali, bagus, betul, tepat sekali, dan lain-lain.
b.      Penguatan Nonverbal.
Penguatan nonverbal adalah penguatan yang diungkapkan melalui bahasa isyarat. Penguatan dapat dilakukan kepada pribadi tertentu, kepada kelompok tertentu, dan kepada kelas secara keseluruhan. Dalam pelaksanaannya penguatan harus dilakukan dengan segera, dan bervariasi.43 Sehubungan dengan ini, ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat memberikan penguatan, sebagai berikut:
a.       Penguatan harus diberikan dengan sungguh-sungguh, penuh ketulusan;
b.      Penguatan yang diberikan harus memiliki makna yang sesuai dengan kompetansi yang diberi penguatan;
c.       Hindarkan respon negatif terhadap jawaban peserta didik;
d.      Penguatan harus dilakuakan segera setelah suatu kompetensi ditampilkan;
e.       Penguatan yang diberikan hendaknya bervariasi.

3.      Keterampilan Menggunakan Variasi
Variasi dalam kegiatan pembelajaran dimaksudkan adalah perubahan-perubahan kegiatan pengajar dalam konteks interaksi pembelajaran, yang meliputi gaya mengajar, penggunaan media pembelajaran, pola interaksidengan peserta didik. dan siimulasi.
Tujuan mengadakan variasi bertujuan untuk:
a.       Mengatasi kebosanan peserta didik sehjngga dalam proses pembelajaran peserta didik senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme,serta penuh partisipasi
b.      Menjadikan proses pembelajaran lebih hidupdan tebih bermakna
c.       meningkatkan perhatian peserta didik terhadap materi yang dipelajari serta kompetensi yang harus dikuasai.
d.      Memotivasi peserta didik aktif dalam pembelajaran

4.      Keterampilan Membuka dan Menutup Pembelajaran
Kegiatan membuka pembelaiaran didefinisikan sebagaialat atau proses yang memasukkan peserta didik ke dalam keadaan penuh perhatian dan belajar (Brown' 1991: 98). Dengan demikian secara teknis, kegiatan membuka pembelaiaran diartikan sebagai aktivitas pengajar untuk menciptakan suasana siap rnental dan menimbulkan perhatian peserta didik agar tepusat kepada apa yang akan dipelajari.
Sedangkan kegiatan menutup pembelajarandapat dideflnisikan sebagai penqarahan perhatian peserta didik ke pada penyelesaian tugas tertentu atau urutan kegiatan pembelaiaran.secara teknis kegiatan membuka pembelajaran dimaksudkan adalah kegiatan yang dilakukan pengajar unluk mengakhiri kegiatan pembelajaran.
Tujuan Membuka Pembelaiaran betujuan untuk:
a.       Memusatkan perhatian dan membangkitkan motivasi peserta didik terhadap tugas-tugas yang harus dilakukan.
b.      Menginformasikan cakupan materi yang akan dipelajari dan batas-batas tugas yang akan dikerjakan peserta didik
Tujuan menutup pembelajaran:
a.       Untuk mengetahui tingkat keberhasilan peserta didik dajampencapaiakompetensi.
b.      Untuk mengetahui tingkat keberhasilan pengajar dalam melaksanakan kegiatar pembelaiaran.
c.       Membuat rantai kompetensi antam kompetensi yang sekarang sedang dipelajari dan kompetensi serta materi pada kegiatan yang akan datang.
d.      Menjelaskan hubungan antara pengalaman belajar yang telah dialami dengan pengalaman baru yang akan dialami dipelajari pada kegiatan yang akan datang
Komponen Membuka pembelajaran
1.      Menarik perhatian peserta didik.
2.      Membangkitkan motivasi peserta didik.
3.      Memberi acuan.
4.      Melakukan apersepsi(apperception)
5.      Keterampilan Menjelaskan
Menjelaskan dimaksudkan adalah memberikan pengertian kepada orang lain(Brown, 1991: 111) Oleh karenaya keterampilan menjelaskan dapat diartikan sebagai keterampilan memberikan pengertian berupa penyajian informasi lisan yang diorganisasi secara sistematis kepada pese(a didik, sehingga informasi atau pesan-pesan pembelajaran baik berupa fakta, konsep, prinsip, ataLlpun prosedurdapat dipahami oleh peserta didik dengan baik.
6.      Keterampilan Menggunakan Media dan Alat Pembelajaran
Media dan alat pembelajaran yang diperlukan dalam proses pembelajaran agar peserta didik cepat dan mudah menangkap materi pembelajaran. Media pembelajaran itu merupakan wahana penyalur pesan atau informasi belajar.
Batasan tersebut terungkap antara lain dari pendapat-pendapat para ahli seperti Witbur Schramm (1971), Gagne dan B ggs (1970). Dari pendapat ketiga ahli tersebut dapat disimpulkan:
a.       Media merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingjn diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan.
b.      Bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar.Sedangkan alat adalah instrument yang dunakan Llntuk menggunakan media.

7.      Keterampilan Membimbing Diskusi
Diskusi dapat dipandang sebagai suatu perbincangan dengan tujuan tertentu (Brown. :135). Diskusi merupakan proses interaksi verbal secara teraiur yang merupakan sekelompok orang dalam interaksitatap muka yang informal.
Keterampilan membimbing diskusi kelompok bertujuan agar:
a.       Proses diskusi kelompok yang dilakukan oleh peserta didik dapat mencapai hasil yang diharapkan secara efisien dan efektif.
b.       Proses berbagi pengalaman atau informasi, mengkonsiruksi konsep, keputusan, atau memecahkan masalah dapat berjalan baik.

8.      Keterampilan Memberikan Penilaian
Penilaian merupakan usaha sistematjs yang dilakukan untuk menentukan kualifikasl terhadap perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran dan capaian hasil belajar peserta didik setelah menjalani proses pembelajalan.
Penilaian memiliki tujuan pokok untuk menilai hasil kegiatan pembelajaran yang dicapai peserta didik.Di samping itu penilaian juga bertujuan untuk:
a.       Meningkatkan memotivasi belajar peserta didik.
b.      Memperbaiki perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran.

9.      Keterampilan Mengelola Kelas
Mengelola kelas dapat diartikan sebagaiupaya menciptakan dan memeljhara kondisi belajar yang optimal terkait dengan proses pembelajaran. Seadangkanketerampilan mengelola kelas berarti kemampuan pengajar menciptakan dan memelihara kondisi belajar yang optimai.
Tujuan keterampilan mengelola kelas:
a.       Mendorong peserta didik mengembangkan tanggung jawab individual terhadap perilaku (behavior)-nya.
b.      Membantu peserta didik mengerti arah perilaku yang sesuai.
c.       Menimbulkan rasa tanggLrng jawab pasa setiap peserta didik dalam tugas dan berperilaku positif.
DAFTAR RUJUKAN

Mohamed Nasr Alshendawi. 2018. Princliples Of Teaching And Learning (outline Of Health Profession Education). Univercity Of Gezira.

Sequeira. 2012. Introduction To Concepts Of Teaching and Learning. National Institute Of Thecnology Karnata.

Jurnal Al-Ta’dib Vol.6 No.1. Belajar Mengajar. Diakses 25 juli 2019.

Modul Pekerti Keterampilan Mengajar. Adobe Acrobat Reader-DC

Landasan Teori . Adobe Acrobat Reader-DC